Kamis, 02 Mei 2013

UJI SIM

Diposting oleh Maisyah di 14.42 0 komentar

Bab I
latar belakang
Bakteri merupakan kelompok organism yang memiliki membran inti sel.organisme ini bermaksud dalam dominan prokoreota ,serta berukuran sangat kecil.Beberapa kelompok bakteri dikenal sebagai organ penyebab penyakit  atau infeksi sedangkan untuk jenis bakteri lainnya dapat memberikan mamfaat.
Bakteri dapat ditemukan dihampir semua tempat baik air,udara dan tanah . Pada umumnya bakteri yang berdiameter hingga 700 mikron yaitu thiomargarita .untuk bentuk-bentuk dari bakteri itu sendiri dapat di golongkan menjadi 3 yakni:
Ø  kokus (coccus)adalah bakteri berbentuk bulat seperti bola
Ø  basil (bacillus)adalah bakteri berbentuk batang
Ø  spiral(spirilam)adalah bakteri berbentuk lengkung
untuk pergerakannya sendiri bakteri menggunakan flagel,sedangkan yang telah memiliki flagel hanya mengikuti pergerakan media pertumbuhannya atau lingkungan ia berada. berdasarkan flagelnya di bagi menjadi 5 golongan yaitu:
Ø  artrik (tidak ada flagel)
Ø  monotrik(satu flagel)
Ø  lototrik(sejumlah flagel pada dua bagian ujung bakteri)
Ø  amtittrik(satu flagel pada kedua ujungnya)
Ø  peritrik(flagel diseluruh permukaan tubuhnya)



Bab 2
Tinjauan pustaka
Mikroorganisme menggunakan asam amino sebagai pemulah protein ,komponen sel dn kadang kala sebagai sumber energi.Asam amino ini dimodifikasikan dalam percobaan diperlihatkan berbagai cara mikroorganisme memodifikasikan asam amino ,dalam modifikasi asam amino dapat digunakan untuk mengidentifikasi suatu jenis bakteri.
Asam amino Tripthopan merupakan komponen asam amino yang lazim terdapat pada protein sehingga asam amino ini dengan mudah di temukan oleh mikroorganisme .Dimana asam amino Triptopan ini oleh bakteri sebagian bakteri dapat dihidrolisa dengan menggunakan enzim Tripthopanase yang di hasilkan menjadi senyawa indol yang merupakan salah satu dari uji biokimia bakteri.
Untuk uji ini di gunakan media semi sholid seperti media sim.Dimana apabila bakteri yang telah diuji setelah di tambahkan reagen kovac terbentuk cincin merah muda (positif indol)apabila menghasilkan sulfur akan memberikan warna hitam.Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah dalam proses pertumbuhan bakteri dapat membentuk indol dari asam amino Triptopan.

Bab 3
Metode penelitian
3.1 Alat dan Bahan
A.Alat
v  Inkubator
v  Rak tabung
v  Ose
v  Lampu spiritus
v  Pipet tetes
B.Bahan
v  Biakan bakteri (k.phenmoniae,s.typi.e.coli)
v  Reagan kovac
v  Media sim


3.2.Prosedur kerja
1.    Disiapkan alat dan bahan
2.    Dipijarkan ose sampai menyala
3.    Diambil biakan bakteri menggunakan ose
4.    Dimokulasikan kedalam media sim
5.    Diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37®c
6.    Keesokan harinya di tetesi dengan larutan kovac
7.    Catat hasilnya hasil positif ditandai dengan cincin warna merah muda,jika hasilnya negative tidak  ada perubahan warna.











Bab IV
Hasil Dan Pembahasan
4.1 Hasil
A.Tabel praktikum pertama
Nama bakteri
sulfur
indol
motilitiy
K.Phenumoniae
_
_
+
E.Colli
_
+
+
Salmonella typi
+
_
+
k.phenumoniae
_
_
+
Salmonella typi
+
_
+
E.colli
_
+
-

B. Tabel praktikum ke 2
Nama bakteri
sulfur
indol
motility
Salmonella typi
_
_
+
k.phenumoniae
_
_
+
E.Colli
_
+
+
Salmonella typi
_
_
+
E.Colli
_
+
+
K.phenumoniae
_
_
+

4.2. Pembahasan
Bakteri merupakan salah satu mikroorganisme yang distribusi geografisnya hamper di temukan di seluruh dunia yang menarik dari bakteri ialah keberadaanya yang menyebabkan infeksi pada manusia sehingga dapat menyebabkan infeksi pada manusia sehingga dapat menimbulkan berbagai penyakit.Disisi lain keberadaannya juga sangat di perlukan oleh tubuh manusia sebagai flora normal yang dimaksud ialah bakteri tertentu yang jumlahnya dalam tubuh batas normal,contohnya bakteri  E.Colli yang menepati seluruh pencernaan manusia dimana bakteri tersebut ikut berperan dalam perombakan atau pembusukan makanan.Kemudian yang menjadi permasalahan saat ini adalah keberadaannya yang dapat menyebabkan atau menjadi penyakit infeksi pada manusia.Oleh karena itulah,saat ini semakin giat dilakukan penelitian tentang bakteri baik itusifatnya ,bentuk dan sebagainya.
Pembahasan mengenai bakteri pada praktikum kali ini adalah sifat dari bakteri (k.phenumoniae,e.colli,salmonella typi)khususnya untuk menentukan uji indolnya.Uji indol tersebut dilakukan untuk mengentahui kemampuan dari ketiga jenis bakteri.diatas dalam mempermentasikan asam amino triptopan menjadi senyawa indol,dimulai dari bakteri.

v  Salmonella typi
Merupakan bakteri gram negative,berbentuk basil,bakteri ini merupakan penyebab penyakit tipes.Salmonella typi apabila ditanam dimedia sim positif menghasilkan sulfur yang apabila diberikan dengan makanan akan berbentuk warna hitam pada media.Untuk hasil praktikum yang pertama hasilnya sesuai seperti yang dijelaskan diatas sedangkan untuk indolnya member hasil negative.ini sesuai dengan indicator yang dibaca dimana salmonella typi tidak menghasilkan enzim tripthopanase sehingga tidak bias memecah asam amino triptohpan menjadi senyawa indol,serta untuk motilitynya sendiri positif.
v  K.phenmoniae
Pada uji indol untuk bakteri tersebut telah memberikan hasil yang sesuai begitu pula pada motilitynya pada praktikum pertama dan kedua yang seharusnya jika mengacu pada literaturnya,k.phenumoniae mampu atau dapat menghasilkan enzim triptopanase sehingga mampu memeca asam amino triptopan menjadi indol,begitu pula untuk motilitynya yang seharusnya negative karna bakteri k.phenumoniae tidak memiliki flagel untuk bergerak namun hasil positif.Untuk uji sulfurnya sendiri,baik praktikum pertama dan kedua memberikan hasil negative yang artinya sesuai dengan teori dimana k.phenumoniae tidak menghasilkan sulfur.
v  E.Colli
Untuk bakteri hasil E.colli sendiri pada uji indol memberikan hasil positif untuk praktikum pertama dan kedua dimana untuk bakteri E.colli memang benar menghasilkan enzim triptopanase sehingga mampu mengubah asa amino triptopan menjadi senyawa indol sesuai teori. Sama halnya dengan motilitynya member hasil positif sedangkan pada sulfurnya sendiri negative karena bakteri e.coli tidak menghasilkan sulfur.
                                Faktor-faktor kesalahan yang sering terjadi, yaitu:
1.       Biakan yang tidak murni lagi
2.       Proses inkubasi yang salah
3.       Memakai reagen yang sudah lama




BAB V
PENUTUP
V.I kesimpulan
                                Dari paraktikum yang sudah diakukan, dapat disimpulkan bahwa:
1.       Bakteri klebsiella pneumoniae dari praktikum pertama dan kedua sama-sama mendapatkan hasil sulfur (-) indol(-), dan motility(+)
2.       Bakteri Salmonella typhi,pada praktium yang pertama hasil yang di dapatkan sulfur(+), indol(-), dan motility(+), sedangkan praktikum kedua hasil yang didapatkan sulfur(-), indol(-), dan motility(+)
3.       Bakteri E.coli pada praktikum pertama hasil yang didapatkan sulfur(-), indol(+), dan motility(-)sedangkan praktikum kedua sulfur(-),indol(+), dan motility(+).
V.2 SARAN
Adapun saran yang dapat kami sampaikan yakni sebaiknya dalam melakukan praktikum harus berhati-hati dan teliti agar kita terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.




DAFTAR PUSTAKA
                               

Djide,Natsir dan Sartini.2006.Dasar-Dasar Mikrobiologi.Universitas Hasanuddin.Makassar
Dwi  Joeseputra.1990.Dasar-Dasar Mikrobiologi.Djambatan.Malang
Selengkapnya cess.. >>

LAPORAN PRAKTIKUM HEMATOLOGI LAJU ENDAP DARAH

Diposting oleh Maisyah di 14.36 10 komentar
 I.              Judul Praktikum            :      Laju Endap Darah

II.           Tanggal Praktikum        :      Kamis, 10 mei 2012

III.        Prinsip Percobaan                :     Laju endap darah digunakan untuk mengatur                                                                        kecepatan sedimentasi sel eritrosit di dalam                                                      plasma. LED berguna sebagai penunjang utuk                                                           mengidentifikasi adanya penyakit kronik,                                                    inflamasi akut dll.

IV.        Landasan Teori
Di dalam tubuh, suspensi sel-sel darah merah akan merata di seluruh plasma sebagai akibat pergerakan darah. Akan tetapi jika darah ditempatkan dalam tabung khusus yang sebelumnya diberi antikoagulan dan dibiarkan 1 jam, sel darah akan mengendap dibagian bawah tabung karena pengaruh gravitasi. Laju endap darah (LED) berfungsi untuk mengukur kecepatan pengendapan darah merah di dalam plasma (mm/jam).

Tiga fase LED meliputi :
·   Fase pengendapan lambat I
Beberapa menit setelah percobaan dimulai, sel darah merah dalam keadaan melayang, sulit mengendap ( 1-30 menit)     
·   Fase pengendapan cepat    
Terjadi setelah darah saling berikatan membentuk rauleaux permukaan relatife kecil , masa menjadi lebih berat (30-60 menit)        
·   Fase pengendapan lambat II        
Terjadi setelah sel darah mengendap, menampak di dasar tabung (60-120 menit)
Dalam keadaan normal nilai LED jarang melebihi 10 mm per jam. LED ditentukan dengan mengukur tinggi cairan plasma yang kelihatan jernih berada di atas sel darah merah yang mengendap pada akhir 1 jam ( 60 menit ).
LED tidak spesifik untuk penyakit/gangguan kesehatan tertentu. Perlu data-data lain untuk menyimpulkan penyebab dari naiknya nilai LED. Baik dari anamnesa meliputi keluhan dan riwayat kesehatan karyawan, pemeriksaan fisik, serta hasil pemeriksaan penunjang lainnya (laboratorium, rontgen, dll). 
LED tinggi bisa merupakan indikasi adanya gangguan kesehatan dalam tubuh kita. Namun seseorang yang hasil pemeriksaan LEDnya tinggi belum tentu memiliki gangguan kesehatan. Sebaliknya seseorang yang memiliki gangguan kesehatan bisa saja nilai LEDnya normal.

V.           Alat dan Bahan
a. Alat:
1.        Karet penghisap
2.        Pipet wetergreen
3.        Rak tabung
4.        Rak Westergreen
5.        Spoit
6.        Tabung EDTA
7.        Tabung Serologi
8.        Tabung reaksi (kecil)
9.        Tourniquet

b.     Bahan
1.        Kapas Alkohol
2.        Natrium Sitrat
3.        Sampel darah EDTA


VI.        Prosedur Kerja
Cara Westergren
A.      Pra Analitik
1.         Persiapan Penderita: tidak memerlukan persiapan khusus
2.         Persiapan sampel:
       Darah vena dicampur dengan antioagulan larutan Natrium Sitrat 0,109 M dengan perbandingan 4 : 1. dapat juga dipakai darah EDTA yang diencerkan dengan larutan sodium sitrat 0,109 M atau NaCl 0,9% dengan perbandingan 4:1.
3.         Prinsip: mengukur kecepatan sendimentasi sel eritrosit di dalam plasma. Satuannya mm/jam
4.         Alat dan bahan:                      
a.       Pipet Westergren
b.      Rak untuk pipet Westergren
c.       Natrium sitrat 0,109 M

B.       Analitik
1.         Isi pipet Westergren dengan darah yang telah diencerkan sampai garis tanda 0. Pipet harus bersih dan kering.
2.         Letakkan pipet pada rak dan perhatikan supaya posisinya betul-betul tegak lurus pada sushu 18-250C. Jauhkan dari cahaya matahari dan getaran.
3.         Setelah tepat 1 jam, baca hasilnya dalam mm/jam.

C.       Pasca Analitik
Nilai rujukan :            
Laki-laki                     : 0 – 15 mm/jam
Perempuan                  : 0 – 20 mm/jam


VII.     Hasil Pengamatan:
a.         Pasien I:
Nama              :      Siti Nuryani
Umur               :      18 Tahun
Jenis Kelamin  :      Perempuan
Hasil                :      29 mm/jam

b.        Pasien II
Nama              :      Ika Anggriani
Umur               :      18 Tahun
Jenis Kelamin  :      Perempuan
Hasil                :      20 mm/jam


VIII.  Pembahasan
Laju Endap Darah (LED) atau Erythrocyte Sedimentation Rate (ESR) merupakan salah satu pemeriksaan rutin untuk darah untuk mengetahui tingkat peradangan dalam tubuh seseorang. Proses pemeriksaan sedimentasi (pengendapan) darah ini diukur dengan memasukkan darah ke dalam tabung khusus LED dalam posisi tegak lurus selama satu jam. Sel darah merah akan mengendap ke dasar tabung sementara plasma darah akan mengambang di permukaan. Kecepatan pengendapan sel darah merah inilah yang disebut LED. Atau dapat dikatakan makin banyak sel darah merah yang mengendap maka makin tinggi Laju Endap Darah (LED)-nya.
Di dalam tubuh, suspensi sel-sel darah merah akan merata di seluruh plasma sebagai akibat pergerakan darah. Akan tetapi jika darah ditempatkan dalam tabung khusus yang sebelumnya diberi antikoagulan dan dibiarkan 1 jam, sel darah akan mengendap dibagian bawah tabung karena pengaruh gravitasi. Laju endap darah ( LED ) berfungsi untuk mengukur kecepatan pengendapan darah merah di dalam plasma ( mm/jam ).
Pada praktikum ini, dilakukan perhitungan Laju Endap Darah (LED) terhadap Siti Nuryani dan Ika Anggriani. Pada hasil pengamatan, pasien Siti Nuryani memiliki nilai LED lebih dari normal yaitu 29 mm/jam. Sementara Pasien kedua, Ika Anggriani memiliki LED yang masih dalam rentang nilai normal yaitu 20 mm/jam.
Tinggi rendahnya nilai pada Laju Endap Darah (LED) memang sangat dipengaruhi oleh keadaan tubuh kita, terutama saat terjadi radang. Namun ternyata orang yang anemia, dalam kehamilan dan para lansia pun memiliki nilai Laju Endap Darah yang tinggi. Jadi orang normal pun bisa memiliki Laju Endap Darah tinggi, dan sebaliknya bila Laju Endap Darah normalpun belum tentu tidak ada masalah. Jadi pemeriksaan Laju Endap Darah masih termasuk pemeriksaan penunjang, yang mendukung pemeriksaan fisik dan anamnesis dari sang dokter.
Namun biasanya dokter langsung akan melakukan pemeriksaan tambahan lain, bila nilai Laju Endap Darah di atas normal. Sehingga mereka tahu apa yang mengakibatkan nilai Laju Endap Darahnya tinggi. Selain untuk pemeriksaan rutin, Laju Endap Darah pun bisa dipergunakan untuk mengecek perkembangan dari suatu penyakit yang dirawat. Bila Laju Endap Darah makin menurun berarti perawatan berlangsung cukup baik, dalam arti lain pengobatan yang diberikan bekerja dengan baik.
Hasil Laju Endap Darah/LED/ ESR yang tinggi dapat terjadi karena :
•    Anemia
•    Kanker seperti  lymphoma atau multiple myeloma
•    Kehamilan
•    Penyakit Thyroid
•    
Diabetes
•    Penyakit  jantung
Selain karena faktor diatas, nilai Laju endap darah (LED) dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor eritrosit, faktor plasma dan faktor teknik.
LED dapat meningkat karena :
a.    Faktor Eritrosit
       Jumlah eritrosit kurang dari normal
       Ukuran eritrosit yang lebih besar dari ukuran normal, sehingga lebih   mudah/cepat membentuk rouleaux → LED ↑.

b.    Faktor Plasma
·      Peningkatan kadar fibrinogen dalam darah akan mempercepat pembentukan rouleaux→ LED ↑.
·      Peningkatan jumlah leukosit (sel darah putih) → biasanya terjadi pada proses infeksi akut maupun kronis

c.    Faktor Teknik Pemeriksaan
·         Tabung pemeriksaan digoyang/bergetar akan mempercepat pengendapan → LED ↑.
·         Suhu saat pemeriksaan lebih tinggi dari suhu ideal (>20̊ C) akan mempercepat pengendapan→ LED ↑.
LED dijumpai meningkat selama proses inflamasi/peradangan akut, infeksi akut dan kronis, kerusakan jaringan (nekrosis), penyakit kolagen, rheumatoid, malignansi, dan kondisi stress fisiologis (misalnya kehamilan).
Bila dilakukan secara berulang laju endap darah dapat dipakai untuk menilai perjalanan penyakit seperti tuberkulosis, demam rematik, artritis dan nefritis. Laju Endap Darah (LED) yang cepat menunjukkan suatu lesi yang aktif, peningkatan Laju Endap Darah (LED) dibandingkan sebelumnya menunjukkan proses yang meluas, sedangkan Laju Endap Darah (LED) yang menurun dibandingkan sebelumnya menunjukkan suatu perbaikan.
Selain pada keadaan patologik, Laju Endap Darah (LED) yang cepat juga dapat dijumpai pada keadaan-keadaan fisiologik seperti pada waktu haid, kehamilan setelah bulan ketiga dan pada orang tua.
Dalam pemeriksaan Laju endap Darah (LED), terdapat sumber-sumber kesalahan yang mungkin terjadi saat melakukan pemeriksaan. Antara lain:
  1. Kesalahan dalam persiapan penderita, pengambilan dan penyiapan bahan pemeriksaan
  2. Dalam suhu kamar pemeriksaan harus dilakukan dalam 2 jam pertama, apabila darah EDTA disimpan pada suhu 4 oC pemeriksaan dapat ditunda selama 6 jam.
  3. Perhatikan agar pengenceran dan pencampuran darah dengan larutan antikoagulans dikerjakan dengan baik.
  4. Mencuci pipa Westergren yang kotor dapat dilakukan dengan cara membersihkannya dengan air, kemudian alkohol dan terakhir aseton. Cara lain adalah dengan membersihkan dengan air dan biarkan kering satu malam dalam posisi vertikal. Tidak dianjurkan memakai larutan bichromat atau deterjen.
  5. Nilai normal pada umumnya berlaku untuk 18-25O C.
  6. Pada pemeriksaan pipet harus diletakkan benar-benar posisi vertikal.


IX.        Penutup
a.       Kesimpulan
1.      Pasien I memiliki nilai laju endap darah melebihi dari nilai normal yaitu 29 mm/jam.
2.      Pasien II  memiliki laju endap darah yang masih dalam rentang nilai normal yaitu 20 mm/jam.


b.      Saran
Apabila anda memiliki nilai LED yang tinggi, alangkah baiknya:
1.         Menjadi vegetarian (hanya makan sayuran saja).
2.         Kurangi penggunaan minyak dan lemak. Biasanya dalam 2 sampai 3 bulan LED sudah normal kembali.
3.         Terapi akupuntur





Selengkapnya cess.. >>
 

welcome to micha's blog :) Copyright © 2011 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by web hosting